Senin, 11 April 2011

:: Syair Pemanggil Angin (Set-seset Maloko') ::

Set-seset maloko’
Iya tompe, iya bu’bu’
Tompena bagi ka mama’na
Bu’ bu’na bagi ka embu’na

Terjemahan:

capung-capung kecil 
ini kulit (dedak kasar/luar) jagung, ini dedak jagung 
kulit (dedak kasar) untuk sang bapak 
dedak jagung untuk sang ibu

Seset (Capung) adalah sejenis serangga yang banyak diketemukan pada pergantian musim hujan ke musim kemarau. Pada pergantian musim inilah Capung-capung mulai mengepakkan sayapnya, membelah angkasa. Nyanyian yang hanya terdiri dari empat bait ini biasanya dinyanyikan oleh seorang ibu sambil menggendong anaknya ketika sedang menyuapi makanan pada sang anak. 

Set-seset maloko’ biasanya juga dilantunkan oleh anak-anak ketika menjelang musim hujan, kalangan anak-anak memanfaatkan untuk bermain layang-layang. Bermain layang-layang juga dibutuhkan angin yang cukup untuk menggerakkan dan menerbangkan layang-layangnya. Nah, pada saat ketika angin belum juga bertiup, anak-anak melantunkan syair set-seset maloko’ dengan irama memanggil angin sampai angin datang.

Set-seset maloko’, adalah rangkaian kalimat yang sangat sederhana, namun apabila dikaji lebih jauh lagi maka setiap baris dalam kalimat tersebut mempunyai nilai filosofis yang sangat mendalam. Secara umum bait-bait ini memberikan nuansa umum tentang perbuatan baik dan menyenangkan kepada siapapun. Namun secara khusus, baris ketiga dan keempat memberi penekanan tentang keutamaan makhluk ciptaan-Nya, yaitu keutamaan seorang ibu.

Ketika salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah nabi besar Muhammad SAW, siapakah orang pertama yang wajib dihormati dan diutamakan, Rasulullah menjawab ibu, pertanyaan tersebut dilontarkan sampai tiga kali, dan Rasulullah tetap menjawab ibu, baru keempat kali Rasulullah menjawab bapak. Ruh dari sabda nabi besar Muhammad SAW tersebut telah menjadi darah yang mengalir dalam setiap nadi dan menjadi kultur suku bangsa Madura yang menempatkan sosok ibu menduduki tempat yang sangat istimewa dan utama. Tidaklah mengherankan apabila penulis syair ini memberikan sesuatu yang sangat istimewa bagi sang ibu, “bu’bu’na bagi ka embu’na”.

Baris keempat, “bu’bu’na bagi ka embu’na”, kalimat ini sejalan dengan kebutuhan ibu dalam pemenuhan gizi.. Bu’ bu’ (dedak jagung ) adalah bahan makanan mengandung nutrisi gizi yang sangat tinggi. Mengapa bu’ bu’ (dedak jagung) ini diberikan kepada ibu ? Bukan kepada Bapak ? Mengapa sang bapak cuma di beri tompe (kulit luar/dedak kasar) ? Pertanyaan ini tentunya sesuai dengan kebutuhan ibu sebagai pendonor pertama kebutuhan nutrisi gizi bagi putra-putrinya.. Dedak jagung adalah bahan makanan yang halus dan enak, banyak mengandung gizi yang tentunya sangat berguna bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama untuk ibu hamil dan menyusui. Mengapa bu’bu’, bukan makanan lain seperti beras ? Karena ketika penulis syair ini hidup pada masa itu, jagung merupakan makanan pokok suku Madura.

Namun esensi dari baris keempat pada puisi lisan tersebut, bahwa manusia Madura memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada sosok Ibu. Tentunya ini merupakan ruh dari kultur budaya Madura yang relegius.

Kamis, 07 April 2011

:: Wisata ke Madura? Kenapa Enggak! ::


Pantai Slopeng
Pantai Lombang

Pulau Madura tidak cuma ada sate atau carok. Sejumlah obyek wisata menarik juga ada di sana. Selama ini, keberadaan tempat-tempat itu jarang dilirik wisatawan.

Beda dulu beda sekarang. Setelah jembatan Suramadu membentang menghubungkan Madura dan Pulau Jawa objek wisata di sana mulai dilirik orang. Hanya saja, Madura membutuhkan investor untuk menata semua potensi pariwisata di pulau itu.

"Sejauh ini, ada tiga objek wisata yang bisa digarap oleh investor," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Djoni Irianto, di kantornya, Kamis (20/8).

Menurut dia, sejumlah objek wisata yang cukup potensial itu di antaranya Pantai Lombang di Sumenep dan peninggalan gedung bersejarah "herritage" masa kolonial Belanda di Kalianget. Ada pula gedung bekas perusahaan garam dan Makam Batu Ampar di Pamekasan. "Seluruhnya bisa dijadikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal hingga mancanegara," ujarnya.

Ia merinci, estimasi besaran investasi yang diperlukan untuk Pantai Lombang senilai Rp 3,5 miliar. Alokasi modal miliaran rupiah itu bisa digunakan untuk pembangunan infrastuktur.

"Sementara itu, objek wisata peninggalan gedung bersejarah masa penjajahan Belanda membutuhkan sekitar Rp 2 miliar. Rencananya, dana itu dialokasikan dengan memfasilitasi perjalanan wisata dari gedung bersejarah yang satu ke lainnya," katanya.

Untuk Makam Batu Ampar, sebut dia, dalam waktu dekat pihaknya akan memperbaiki infrastruktur di sana, misalnya berupa penataan paving, renovasi toilet, tempat parkir, gasebo, dan pagar. Total investasinya diperkirakan mencapai Rp500 juta.

"Khusus Makam Batu Ampar, permodalan objek wisata itu diserahkan kepada pemerintah, sedangkan Pantai Lombang dan gedung bersejarah akan ditawarkan ke sejumlah investor," katanya.

Sebelum beberapa investor masuk ke Madura pasca operasional Jembatan Suramadu sepanjang 5.438 meter, ia menyarankan, agar sepanjang jalur antara Suramadu dan Sumenep bisa didirikan objek wisata kuliner yang lebih memadai, daripada kondisi warung makanan minuman saat ini.

"Keberadaan wisata kuliner, dapat dijadikan lokasi peristirahatan sementara bagi wisatawan yang ingin menikmati perjalanan jauh, sembari mengonsumsi makanan dan minuman tertentu," katanya.

Meski investor belum datang, eksotisme pulau itu rasanya layak disambangi. Aneka budaya dan tradisi suku Madura adalah mutiara terpendam yang belum banyak dieksplorasi.

Rabu, 06 April 2011

:: Menghidupkan Kembali Gagasan Wisata Kota Tua Kalianget ::


Gagasan wisata kota tua Kalianget yang digagas dinas Pariwisata Sumenep tahun 2009 lalu memang menarik. Gagasan wisata ini menambah jumlah konsep wisata sebelumnya di Sumenep yaitu wisata ziarah, wisata sejarah dan wisata alam. Selama ini Sumenep memang kental dengan wisata ziarah seperti masjid Jami’, makam Asta Tinggi dan makam sejumlah wali di beberapa tempat di Kabupaten Sumenep. Wisata alam pantai Lombang dan Slopeng juga menambah eksotika wisata Sumenep. Lainnya adalah wisata sejarah berupa keraton dan museum Sumenep. Sayang, gagasan wisata kota tua Kalianget makin redup dan tidak bergairah di masyarakat.

Gagasan wisata kota tua menjadi kelengkapan sendiri terhadap wisata sejarah, ziarah dan alam yang selama ini sudah berjalan. Gagasan wisata kota tua, paling tidak menggambarkan betapa luas eksotika Sumenep kontemporer yang berasal dari warisan masa lalu. Gagasan wisata kota tua pada dasarnya merupakan upaya untuk mendayagunakan situs-situs kuno warisan Belanda yaitu kawasan pabrik garam dan sekitarnya serta pelabuhan lama Kalianget. Wisata kota tua Klaianget dari sisi pariwisata memiliki dua daya tawar sekaligus. Pertama, daya tawar kepada turis asing yang menggemari situs-situs kuno bernuansa nostalgia Kolonialisme. Selama ini, memang terdapat kelompok turis Belanda yang menyukai situs klasik warisan leluhurnya masa kolonial dulu seperti misalnya wisata lokomotif kuno Ambarawa yang masih eksis sampai saat ini. Wisata kota tua dapat ditawarkan pada turis kelompok ini. Adapun daya tawar kedua adalah bahwa kota tua dilewati rute wisata ziarah menuju Asta Sayyid Yusuf di pulau Poteran. Konsep wisata kota tua dapat dipadukan dengan konsep wisata ziarah.
Namun, kendala pertama gagasan wisata kota tua Kalianget adalah tidak terintegrasikannya komunitas- komunitas pendukung yang biasanya layak disebut sebagai penghuni kota tua seperti keturunan Arab dan Cina bahkan komunitas Madura sendiri dalam konsep wisata kota tua. Berbeda dengan komunitas Arab dan Cina di Surabaya, kedua komunitas eksotik ini tak begitu menonjol sisi pariwisatanya di Sumenep. Sulitnya integrasi komunitas Arab dan Cina ini bukan saja karena Pecinan dan kampung Arab terletak sepuluh kilometer dari Kalianget atau berada di pusat kota Sumenep, namun juga bahwa kedua komunitas ini cenderung tidak memiliki daya tarik sebagai komunitas wisata. Wilayah Pecinan dan kampung Arab secara substantif tak lagi memiliki eksotisme. Pecinan masa kini lebih mirip kompleks pertokoan yang terjepit dalam kepungan rumah penduduk di pusat kota tanpa tradisi khas Cina yang menonjol. Sementara kampung Arabpun juga lebih mirip perkampungan modern dengan tradisi dan kesenian biasa. Musik gambus, hadrah dan sebagainya sebenarnya adalah hal biasa yang bisa dijumpai dimana saja. Adapun komunitas Madura yang berdomisili di sekitar kawasan kota tua sendiri adalah komunitas Madura modern yang mungkin tak begitu apresiatif terhadap tradisinya. Selain deretan rumah kuno yang dapat ditemui disekitar kawasan kota tua, secara kultural komunitas Madura Kalianget adalah komunitas modern. Tradisi dan kesenian klasik memang ada namun wujud dan geraknya insidental semata.
Karenanya, Dinas Pariwisata dapat menciptakan sebuah perkampungan wisata di dalam kompleks kota tua agar daya tarik bangunan lama dalam kota tua seperti pabrik garam dan segala isinya lebih hidup dan tidak menggambarkan obyek kolonialisme semata. Berbagai kesenian dan tradisi Madura, Cina dan Arab dapat ditampilkan apalagi luas kawasan tersebut hampir 12 hektar. Pemerintah juga dapat mengfungsikan kembali kereta api kuno jenis lori untuk menambah eksotisme klasik yang ingin disampaikan. Letak pabrik garam warisan Belandapun juga menghadap selat Madura. Ini merupakan nilai tambah natural bagi kawasan kota tua. Letak yang hanya sekitar tiga ratus meter dari laut menjadikan keindahan pantai selat Madura merupakan keindahan tersendiri yang menambah bobot keindahan kota tua. Pemerintah dapat menggabungkan keindahan laut ini dengan mengelola kemudian mengkombinasikan secara signifikan guna menambah daya tarik wisata kota tua.
Pemerintahpun wajib merevitalisasi situs lama yang terserak antara kota Sumenep dengan kota Kalianget seperti Benteng Kalimo’ok. Ironis, benteng kuno buatan Belanda tahun 1795 tersebut justru terbengkalai dan sekarang menjadi rumah karantina hewan. Padahal, benteng tersebut merupakan saksi bisu perjalanan kolonialisme di Sumenep. Benteng Kalimo’ok seharusnya diintegrasikan kedalam kawasan kota tua mengingat umurnya yang lebih tua dari situs-situs di kawasan kota tua. Lokasinyapun terletak di tengah perjalanan antara kota Sumenep dengan kota Kalianget.
Konsep wisata kota tuapun akan lebih berdaya guna jika dikombinasikan dengan konsep wisata lainnya terutama wisata ziarah dan wisata sejarah. Apalagi, kuantitas wisatawan lokal lebih banyak daripada wisatawan mancanegara. Meskipun merupakan warisan Belanda, kawasan kota tua dalam waktu dekat masih akan sulit menjaring turis asing. Kombinasi dengan wisata ziarah-sejarah adalah paling tepat, karena paket wisata ziarah-sejarah yang sering dijalankan para wisatawan domestik biasanya dimulai dari makam Asta Tinggi, masjid Jami’, Keraton Sumenep, museum kemudian Asta Sayyid Yusuf di Pulau Poteran. Ketika menyeberang ke pulau Poteran, wisatawan pasti akan melewati dua situs kota tua yaitu pabrik garam dan pelabuhan lama Kalianget. Pemerintah dapat mengintegrasikan wisata kota tua dalam paket wisata ini.

Selasa, 15 Maret 2011

:: Sunni ::

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah atau Ahlus-Sunnah wal Jama'ah (Bahasa Arab: أهل السنة والجماعة) atau lebih sering disingkat Ahlul-Sunnah (bahasa Arab: أهل السنة) atau Sunni. Ahlussunnah adalah mereka yang senantiasa tegak di atas Islam berdasarkan Al Qur'an dan hadits yang shahih dengan pemahaman para sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in. Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi'ah.
Terminologi
Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang mengikuti sunnah dan berpegang teguh dengannya dalam seluruh perkara yang Rasulullah berada di atasnya dan juga para sahabatnya. Oleh karena itu Ahlus Sunnah yang sebenarnya adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka sampai hari kiamat.
Sejarah

Fitnah di tubuh Islam

Kesalahpahaman dalam kepemimpinan pada saat wafatnya Rasulullah Muhammad

Ketika Rasulullah Muhammad SAW wafat, maka terjadilah kesalahpahaman antara golongan Muhajirin dan Anshar siapa yang selanjutnya menjadi pemimpin kaum muslimin. Para sahabat melihat hal ini akan mengakibatkan perselisihan antar kaum muslimin muhajirin dan anshor. Setelah masing-masing mengajukan delegasi untuk menentukkan siapa Khalifah pengganti Rasulullah. Akhirnya disepakati oleh kaum muslimin untuk mengangkat Abu Bakar sebagai Khalifah.

Fitnah masa khalifah ke-3

Pada masa kekhalifahan ke-3, Utsman bin Affan, terjadi fitnah yang cukup serius di tubuh Islam pada saat itu, yang mengakibatkan terbunuhnya Khalifah Utsman. Pembunuhnya ialah suatu rombongan delegasi yang didirikan oleh Abdullah bin Saba' dari Mesir yang hendak memberontak kepada Khalifah dan hendak membunuhnya. Abdullah bin Saba' berhasil membangun pemahaman yang sesat untuk mengadu domba umat Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam. Kemudian masyarakat banyak saat itu, terutama disponsori oleh para bekas pelaku pembunuhan terhadap Utsman, berhasil membunuh beliau dengan sadis ketika beliau sedang membaca Qur'an.

Fitnah masa khalifah ke-4

Segera setelah bai'at Khalifah Ali mengalami kesulitan bertubi-tubi. Orang-orang yang terpengaruh Abdullah bin Saba' terus menerus mengadu domba para sahabat. Usaha mereka berhasil. Para sahabat salah paham mengenai kasus hukum pembunuhan Utsman. Yang pertama berasal dari janda Rasulullah SAW, Aisyah, yang bersama dengan Thalhah dan Zubair berhasil diadu domba hingga terjadilah Perang Jamal atau Perang Unta. Dan kemudian oleh Muawiyah yang diangkat oleh Utsman sebagai Gubernur di Syam, mengakibatkan terjadinya Perang Shiffin. Melihat banyaknya korban dari kaum muslimin, maka pihak yang berselisih mengadakan ishlah atau perdamaian. Para pemberontak tidak senang dengan adanya perdamaian diantara kaum muslimin. Kemudian terjadi usaha pembangkangan oleh mereka yang pada awalnya berpura-pura / munafik. Merekalah Golongan Khawarij

Tahun Jama'ah

Kaum Khawarij ingin merebut kekhalifahan. Tapi terhalang oleh Ali dan Muawiyah, sehingga mereka merencanakan untuk membunuh keduanya. Ibnu Muljam dari Khawarij berhasil membunuh Khalifah Ali pada saat khalifah mengimami salat subuh di Kufah, tapi tidak terhadap Muawiyah karena dijaga ketat. Bahkan Muawiyah berhasil mengkonsolidasikan diri dan umat Islam, berkat kecakapan politik dan ketegaran kepemimpinannya. Karena belajar oleh berbagai pertumpahan darah, kaum muslim secara pragmatis dan realistis mendukung kekuasaan de facto Muawiyah. Maka tahun itu, tahun 41 Hijriyah, secara khusus disebut tahun persatuan ('am al-jama'ah).

Sunnah Madinah

Kaum muslimin mendalami agama berdasarkan Al-Qur'an, dan memperhatikan serta ingin mempertahankan sunnah Nabi di Madinah. Akhirnya ilmu hadits yang berkembang selama beberapa abad, sampai tuntasnya masalah pembukuan hadis sebagai wujud nyata Sunnah pada sekitar akhir abad ke-3 hijriyah. Saat itu, lengkap sudah kodifikasi hadis dan menghasilkan al-Kutub al-Sittah (Buku Yang Enam) yakni oleh al-Bukhari (w. 256 H), Muslim (w. 261 H), Ibnu Majah (w. 273 H), Abu Dawud (w. 275), al-Turmudzi (w. 279 H), dan al-Nasa'i (w. 303 H).

Perkembangannya kemudian

Ahlus-Sunnah pada masa kekuasaan Bani Umayyah masih dalam keadaan mencari bentuk, hal ini dapat dilihat dengan perkembangan empat mazhab yang ada di tubuh Sunni. Abu Hanifah, pendiri Mazhab Hanafi, hidup pada masa perkembangan awal kekuasaan Bani Abbasiyah.

Mazhab / aliran Fikih

Terdapat empat mazhab yang paling banyak diikuti oleh Muslim Sunni. Di dalam keyakinan sunni empat mazhab yang mereka miliki valid untuk diikuti. Perbedaan yang ada pada setiap mazhab tidak bersifat fundamental. Perbedaan mazhab bukan pada hal Aqidah (pokok keimanan) tapi lebih pada tata cara ibadah. Para Imam mengatakan bahwa mereka hanya ber-ijtihad dalam hal yang memang tida ada keterangan tegas dan jelas dalam Alquran atau untuk menentukan kapan suatu hadis bisa diamalkan dan bagaimana hubungannya dengan hadis-hadis lain dalam tema yang sama. Mengikuti hasil ijtihad tanpa mengetahui dasarnya adalah terlarang dalam hal akidah, tetapi dalam tata cara ibadah masih dibolehkan, karena rujukan kita adalah Rasulullah saw. dan beliau memang tidak pernah memerintahkan untuk beribadah dengan terlebih dahulu mencari dalil-dalilnya secara langsung, karena jika hal itu wajib bagi setiap muslim maka tidak cukup waktu sekaligus berarti agama itu tidak lagi bersifat mudah.

Hanafi

Didirikan oleh Imam Abu Hanifah, Mazhab Hanafi adalah yang paling dominan di dunia Islam (sekitar 45%), penganutnya banyak terdapat di Asia Selatan (Pakistan, India, Bangladesh, Sri Lanka, dan Maladewa), Mesir bagian Utara, separuh Irak, Syria, Libanon dan Palestina (campuran Syafi'i dan Hanafi), Kaukasia (Chechnya, Dagestan).[rujukan?]

Maliki

Didirikan oleh Imam Malik, diikuti oleh sekitar 20% muslim di seluruh dunia. Mazhab ini dominan di negara-negara Afrika Barat dan Utara.[rujukan?] Mazhab ini memiliki keunikan dengan menyodorkan tatacara hidup penduduk madinah sebagai sumber hukum karena Nabi Muhammad hijrah, hidup dan meninggal di sana dan kadang-kadang kedudukannya dianggap lebih tinggi dari hadits.

Syafi'i

Dinisbatkan kepada Imam Syafi'i memiliki penganut sekitar 28% muslim di dunia. Pengikutnya tersebar di Turki, Irak, Syria, Iran, Mesir, Somalia, Yaman, Indonesia, Thailand, Singapura, Filipina, Sri Lanka dan menjadi mazhab resmi negara Malaysia dan Brunei.[rujukan?]

Hambali

Dimulai oleh para murid Imam Ahmad bin Hambal. Mazhab ini diikuti oleh sekitar 5% muslim di dunia dan dominan di daerah semenanjung Arab. Mazhab ini merupakan mazhab yang saat ini dianut di Arab Saudi.[rujukan?]


sumber: http://id.wikipedia.org

Senin, 14 Maret 2011

:: Kue dari Tuhan ::

Saat aku tak PAHAM maksud Tuhan, aku memilih untuk PERCAYA
Saat aku TERTEKAN oleh kekecewaan, aku memilih untuk BERSYUKUR
Saat rencana hidupku BERANTAKAN, aku memilih untuk BERSERAH
Saat PUTUS ASA melingkupiku, aku memilih untuk TETAP MAJU
===

Seorang anak memberitahu ibunya kalau segala sesuatu tidak berjalan seperti yang dia harapkan. Dia mendapatkan nilai jelek dalam rapor, team favoritnya kalah, dan sahabat terbaiknya pindah ke luar kota.

Saat itu ibunya sedang membuat kue, dan menawarkan apakah anaknya mau mencicipinya, dengan senang hati dia berkata, "Tentu saja mom, I love your cake."
"Nih, cicipi mentega ini," kata Ibunya menawarkan.
"Yaiks," ujar anaknya.
"Bagaimana dengan telur mentah"
"You're kidding me, Mom."
"Mau coba tepung terigu atau baking soda."
"Mom, semua itu menjijikkan"

Lalu Ibunya menjawab," Ya, semua itu memang kelihatannya tidak enak jika dilihat satu per satu. Tapi jika dicampur jadi satu melalui satu proses yang benar, akan menjadi kue yang enak."

Tuhan bekerja dengan cara yang sama.
===

Sahabat … seringkali kita bertanya kenapa Dia membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak menyenangkan? Tapi Tuhan tahu jika Dia membiarkan semuanya terjadi satu per satu sesuai dgn rancangan-Nya, segala sesuatunya akan menjadi sempurna tepat pada waktunya..

Senin, 28 Februari 2011

:: Hakikat Insan Kamil ::

Manusia paripurna adalah manifestasi Tuhan di dunia yang memiliki kewajiban utama mengagungkan dan memuliakan Sang Pencipta, karena inilah ia diberikan ha-hak istimewa oleh Tuhan. Untuk menjadi manusia paripurna harus melampaui kedudukan kalian sebagai manusia ( an-nas ) terlebih dahulu, bukan hanya manusia berkesadaran hewan yang memangsa dan dimangsa. Jika sebagai seorang al mu’min ( beriman ) terlampaui maka kalian harus melampaui kedudukan manusia bertaqwa ( al muttaqin ) sampai seterusnya. Hidup adalah kehendak untuk membuktikan bahwa dirinya ada dan inilah yang mesti disadari oleh kita sebagai manusia, untuk menyadarinya ujilah dirimu ;
Pertama, sadarilah bahwa dirimu merupakan manusia yang terbuat dari tanah lempung yang disemayami ruh Ilahi. Kedua, sadarilah bahwa keberadaan manusia yang lain adalah sama dengan dirimu sehingga tidak usah merasa lebih tinggi atau rendah. Ketiga, sadarilah bahwa yang paling tinggi derajatnya diantara insan adalah mereka yang sudah mencapai pencerahan dengan menyaksikan Hakikat yang Ilahi yang tersembunyi didalam dirinya.
Pupuh 2 sebagai berikut :
Manusia hakiki (sejati ) adalah wujud hak, kemandirian dan kodrat
Berdiri dengan sendirinya, Sukma menjelma sebagai hamba
Hamba menjelma pada Sukma, nafas sirna menuju ketiadaan
Kehampaannya meliputi alam semesta
Sifat 20
1. Nafsiyah : Wujud – sifat yg berkaitan dengan Diri atau Dzat
2. Salbiyah : Qidam, Baqa, Mukhalafah, li al hawadits, Qiyamuhu bi nafsihi, wahdaniyah
3. Ma’ani : Qudrat, Iradat, Ilm, Hayat, Sama’, Bashar, Kalam
4. Ma’nawiyah : Qadiran, Muridan, Aliman, Hayyan, Sami’an, Bashiran, Mutakalliman
Sifat Rasul
1. Shiddiq : jujur
2. Fathanah : cerdas, cermat dan seksama
3. Amanah : dapat dipercaya
4. Tablig : orang yang menyembunyikan yang bukan haknya dan menyampaikan pada yang berhak menerimanya
Fardhunya syahadat
1. Tashdiq : meneguhkan hati kepada Dzat Allah, mengetahui bahwa segala sesuatu adalah ciptaanNya, dan Nabi Muhammad adalah diutus oleh Dia untuk memberi keteladanan akhlak yang mulia
2. Ta’zhim : Dilakukan dengan mengagungkan asma Allah
3. Hurmat : adalah menhormati kesucian Tuhan dalam kehidupan ini
4. Hilawah : adalah menghiasi diri dengan sifat2 terpuji
Tapa sebagai perwujudan syariat :
1. Tapa Ngeli : menghanyutkan diri …berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan agar bisa hidup sesuai dengan kehendak Tuhan “ darma nglakoni “
2. Tapa Geniara : tidak boleh merasakan sakit hati, bila dibicarakan orang lain, untuk melatih kalem, teguh rahayu
3. Tapa Banyuara : harus mampu menyaring omongan dan tutur kata
4. Tapa Ngluwat : tidak boleh membanggakan kebaikan diri, tidak memamerkan kebajikan diri, dan sepi pamrih
Kitab Semesta
1. Loh mahfuzh ( papan tulis yg terjaga ): kitab yg memuat hukum yang menerangkan kejadian di alam semesta ini seperti heriditas ( pewarisan sifat ), kebangkitan, dan semua hukum material dan immaterial kosmos
2. Kitab Mubin : yang merekam fenomena alam yg ada secara actual seperti dalam surat Yunus 10:61
3. Imam mubin : adalah kitab arsip bagi apa yg telah dilakukan atau masih tersimpan dalam pikiran manusia, dan tersimpan petunjuk bagi kemajuan lahir dan batin manusia
Ihsan
Itulah yang disebut Sang Hyang Widhi olehnya
Dia berbuat baik dan mengabdi atas kehendakNya
Dihapuslah tekad lahiriahnya
Tingkah laku dan pendapat yang dilahirkan tiada berbeda
Berketetapan hati tuk berkiblat dan setia
Teguh dalam pendiriannya
Segala kotoran yang melekati dibersihkannya
Sampai ajal tak akanmenyembah budi dan cipta
Dirinya bersifat Muhammad yang mulia
Sifat rasul yang sejatinya
Sifat Muhammad yang kudus dan mulia
Tiada yang dijadikan pimpinan dalam hidup ini
Kecuali budi yang dipimpin Dzat Wajibul Maulana
Ihsan adalah wujud dari rukun iman dan islam, yaitu pengabdian kepada Allah sepenuh hati seolah2 kau melihatNya, dan meskipun engkau tidak melihatNya, Dia melihat engkau .
Hiasi dirimu dengan warna Ilahi
Hormati cinta dan tegakkan
Tabiat muslim penuh cinta kasih
Yang tak punya cinta jadi kafir
Segala gerak hidupnya tergantung pada Allah semata
Segala kehendaknya, iradah Ilahi
Mari tinggalkan kata
Cari hakikat ruhaninya
Tuangkan cahaya Ilahi atas gulita amalmu
Raja kita teramat miskin dari semua orang
Karena kemiskinan sang raja rakyat menderita
Dia perampok bukan seorang kalifah
Ketololannya menipu diri sendiri
Atas nama kerajaan disebarkan wabah petaka
Lapar seorang pengemis Cuma memusnahkan diri sendiri
Laparnya raja membinasakan negeri dan agama
Maka : Siapapun menhunus pedang tidak demi Tuhan
Pedang itu menusuk ke dadanya sendiri
Iqbal
Barang siapa yang mendatangi orang yang kaya dan bersikap tawaduk, merendahkan diri kepadanya karena hartanya, maka ia telah kehilangan duapertiga agamanya
Ali bin Abi thalib
Sifat Nafsiah adalah sifat yg berkaitan dengan “Diri” atau Dzat, yang mengatributkan pada adanya Tuhan, Tuhan wajib ada, pasti ada dan mustahil bila tidak ada
Sifat Salbiyah adalah sifat yang meniadakan sifat lawannya, artinya bila Tuhan yang disebut yang paling dahulu keberadaanya maka tidak ada lagi yang mendahuluinya dan ini disebut juga sebagai Jamal. Qidam mempunyai arti yang ada yang tidak didahului oleh keberadaan sebelumnya, Baqa’ mempunyai arti sebagai sifat yang tak pernah berakhir, Mukhalafah artinya berbeda dengan barang baru, iniah sifat unik, semua yang terindera disebut barang baru dan berbeda dengan ruh yang ditiupkan oleh Dia, sedangkan ruh sendiri mempunyai tingkatan yaitu; ruh khayali, aqli, fikri, kudus.
Ruh indrawi ( madariki )ada pada setiap makhluk hidup dan merupakan cikal bakal kehidupan dan menyebabkan ciptaan bisa hidup.
Ruh Khayali berfungsi untuk menyimpan kesan atau memori, disinilah seorang bayi bisa mengenali apa-apa yang terserap oleh inderanya walaupun untuk tahap memaknainya missal untuk memahami apa sebenarnya yang pahit dan manis itu.
Ruh Aqli merupakan ruh yang mampu memahami makna-makna diluar indera dan khayal, bisa memahami sesuatu yang abstrak dan merupakan essensi manusia yang tidak ditiupkan pada binatang. Ruh inilah yang dapat memahami sesuatu yang berupa tamsil, ibarat, perumpamaan dan metafora lainnya dan agama merupakan santapan bagi ruh ini.
Ruh Fikri adalah ruh yang mampu mengakomodasikan pengetahuan rasional murni, kemudian menggabungkan pengetahuan tersebut menjadi satu, dari penggabungan itu didapatlah kesimpulan sehingga dihasilaknlah pengetahuan baru yang berharga bagi manusia.
Ruh Kudus adalah ruh yang ditiupkan pada para nabi, wali, dan orang-orang suci dan dengan ruh ini seseorang dapat menyaksikan hal-hal gaib, hokum alam dan ini merupakan tambahan agar manusia dapat memperoleh petunjuk dalam hidupnya
Dan Syekh Siti Jenar merincinya sebagai berikut;
Diri manusia di bagi menjadi 3 lapisan, yaitu lapisan jasmani atau jasad, lapisan nafsani atau jiwa, dan lapisan ruhani atau sukma. Dan masing-masing instrument dapat menangkap kebenaran pada dimensinya.
Lapisan jasmani berfungsi untuk menerima semua kesan inderawi, dan tidak bisa memaknainya dan tidak bisa digunakan untuk memahami apa dibalik itu, dan kemampuannya terbatas pada umur tertentu, dan berhenti pada saat manusia mati dan tentu saja tidak dapat dipakai sebagai pedoman.
Lapisan Nafsani merupakan pembeda antara manusia dan binatang, dengan instrumennya ini manusia dapat memiliki kesadaran sebagai manusia, mampu berangan-angan dan berpikir, dengan berpikir manusia dapat memilah dan memilih, menimbang, mengetahui antara fakta dan realita dan ekspresi lainnya. Namun instrument ini yang namanya akal, budi dan pikiran dapat mengembara ke dunia imajiner atau khayali yang tidak berpijak pada kebenaran, maka dari itu ini harus disinari ruh alias sukma; “Sukma menjelma sebagai hamba, hamba menjelma pada sukma, nafas sirna menuju ketiadaan, badan kembali sebagai tanah “, dan ruh inilah yang disebut mursyid sebagai penunjuk jalan. Qiyamun bi Nafsihi artinya bangkit dengan Dzat pribadinya sendiri.
Manusia yang hakiki, adalah wujud hak, kemandirian dan kodrat
Berdiri dengan sendirinya
Adanya kehidupan ini karena pribadi
Ditetapkan oleh pribadi
Ditetapkan oleh kehendak nyata
Hidup tanpa sukma
Tiada merasakan sakit atau lelah
Suka dukapun musnah
Berdiri sendiri menurut karsanya
Hidup sesuai kehendaknya
Wahdaniyyah artinya satu, esa atau tunggal, inilah sifat keenam Tuhan yang merupakan sifat manusia sempurna, dualitas yang hilang pada sifat ini, dan ini merupakan alam ruhani yang terendah berada diatas nafsani yang diterangi gemerlapnya bintang dan kita dapat mendengarkan panggilan Tuhan semesta alam dan dialam ini senantiasa makhluk ruhani beraudensi dengan Tuhan dan setan ataupun makhluk yang berenergi negative lainnya tak akan sanggup mendengarkan pembicaraan dialam ini
Sifat Ma’ani adalah sifat yang mengandung sifat-sifat nafsiyah. Qudrat dan Iradat, Kodrat artinya kuasa dan ini dimiliki manusia dalam ssifat sederhana untuk memilih memilah, mengatur, membuat, dll, dan pencapaiannya juga berbeda2 tergantung pada kebiasaan melatih dirinya. Iradat artinya adalah sifat kehendak atau kemauan yang dimiliki manusia, dan antara kodrat dan iradat tidak dapat terpisahkan dan dengan ini manusia bisa berbuat apa saja yang dikehendaki, dan apabila tidak bisa memimpinnya maka akan menjadi perusak kehidupan, karena hanya berhenti di nafsani maka dibawah kekuasaan Ego, yang seharusnya di bawah kendali Ruh dariNya, itulah yang ada di ayat Kursi dan seperti tembang berikut ini ;
Kodrat adalah kuasa pribadi
Tiada yang mirip atau menyamai
Kuasanya tanpa peranti
Dari tanpa rupa menjadi warna warni
Lahir batin satu sebab sawiji
Iradat berarti
Karsa tanpa runding
Hidupberdiri sendiri
Menurut karsanya
Sesuai kehendakNya

Kamis, 10 Februari 2011

:: Madura ::

Suku Madura di Indonesia jumlahnya kira-kira ada 10 juta jiwa. Mereka berasal dari Pulau Madura dan pulau-pulau sekitarnya, seperti Gili Raja, Pulau Sapudi, Pulau Raas dan Kangean. Selain itu, orang Madura tinggal di sebelah timur Jawa Timur, dari Pasuruan sampai utara Banyuwangi. Orang Madura di Situbondo dan Bondowoso, serta timur Probolinggo jumlahnya paling banyak, dan jarang yang bisa berbahasa Jawa.
Bahasa yang dipergunakan oleh Suku Madura adalah bahasa Madura, bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Agama mereka sebagian besar adalah Islam dan sebuah minoritas kecil ada yang beragama Kristen.
Suku Madura juga banyak dijumpai di propinsi lain seperti Kalimantan, di Sampit dan Sambas. Orang Madura pada dasarnya adalah orang yang suka merantau karena keadaan wilayahnya yang tidak baik untuk bertani. Orang Madura senang berdagang dan dominan di pasar-pasar. Selain itu banyak yang bekerja menjadi nelayan, buruh, pengumpul besi tua dan barang-barang rongsokan lainnya.
Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang blak-blakan serta sifatnya yang keras dan mudah tersinggung, tetapi mereka juga dikenal hemat, disiplin dan rajin bekerja. Selain itu orang Madura dikenal mempunyai tradisi Islam yang kuat, sekalipun kadang melakukan ritual Pethik Laut atau Rokat Tasse (sama dengan Larung Sesaji).
Harga diri, juga paling penting dalam kehidupan orang Madura, mereka memiliki sebuah peribahasa “Lebbi Bagus Pote Tollang, atembang Pote Mata”. Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata). Tradisi carok juga berasal dari sifat itu.
Madura adalah nama pulau yang terletak di sebelah Utara Jawa Timur. Pulau Madura besarnya kurang lebih 5.250 km2 (lebih kecil daripada pulau Bali), dengan penduduk sekitar 4 juta jiwa. Madura dibagi menjadi empat kabupaten:
Bangkalan
Sampang
Pamekasan
Sumenep
Pulau Madura termasuk propoinsi Jawa Timur dan memiliki nomor kendaraan bermotor sendiri: Pulau ini terkenal sebagai pemasok garam nasional bagi Indonesia. Pilihan bertambak garam bagi penduduk Madura disebabkan kurang begitu suburnya tanah pulau ini bagi pertanian. Karena alasan serupa, banyak orang Madura menjadi perantau ke daerah-daerah lain di Indonesia. Komunitas Madura yang besar dapat ditemukan di pulau Kalimantan selain di Jawa.
Bangkalan
Kabupaten Bangkalan, adalah sebuah kabupaten di Pulau Madura. Ibukotanya adalah Bangkalan. Kabupaten ini terletak di ujung paling barat Pulau Madura; berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Sampang di timur, serta Selat Madura di selatan dan barat.
Pelabuhan Kamal merupakan pintu gerbang Madura dari Jawa, dimana terdapat layanan kapal ferry yang menghubungkan Madura dengan Surabaya (Pelabuhan Ujung). Dan juga Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura), yang menjadi jembatan terpanjang di Indonesia. Bangkalan merupakan salah satu kawasan perkembangan Surabaya, serta tercakup dalam lingkup Gerbangkertosusila.
Sampang
Kabupaten Sampang, adalah sebuah kabupaten di Pulau Madura. Ibukotanya adalah Sampang. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Pamekasan di timur, Selat Madura di selatan, serta Kabupaten Bangkalan di barat. Masakan khas kota ini adalah kaldu.
Pamekasan
Kabupaten Pamekasan adalah sebuah kabupaten di Pulau Madura. Ibukotanya adalah Pamekasan. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Selat Madura di selatan, Kabupaten Sampang di barat, dan Kabupaten Sumenep di timur. Pusat pemerintahan di Kecamatan Pamekasan.
Sumenep
Sumenep (bahasa Madura: Songènèb) adalah sebuah kabupaten di ujung timur Pulau Madura.Ibu kotanya ialah Kota Sumenep. Sumenep memiliki sebuah keraton keluarga kerajaan Madura, Cakraningrat. Kabupaten Sumenep selain terdiri wilayah daratan juga terdiri dari kepulauan yang berjumlah 126 pulau. Pulau yang paling utara adalah Pulau Karamian yang terletak di Kecamatan Masalembu dan pulau yang paling Timur adalah Pulau Sakala.

Senin, 24 Januari 2011

:: Membangun Kembali Citra Positif Budaya Madura ::

Dipastikan berangkat dari keyakinan bahwa Budaya Madura sesungguhnya memang sarat dengan nilai-nilai sosial budaya yang positif. Hanya saja kemudian nilai-nilai positif tersebut tertutupi perilaku negatif sebagian orang Madura sendiri, sehingga muncul stereotype tentang orang Madura, dan lahir citra yang tidak menguntungkan.
Nilai-nilai sosial sebuah budaya, menurut Latif Wiyata bersifat lokal dan kontekstual sesuai dengan kondisi dan karakteristik masyarakat pendukungnya. Sejalan dengan ini, seharusnya Budaya Madura mencerminkan karakteristik masyarakat yang religius, yang berkeadaban dan sederetan watak positip lainnya. Akan tetapi keluhuran nilai budaya tersebut pada sebagian Orang Madura tidak mengejawantah karena muncul sikap-sikap yang oleh orang lain dirasa tidak menyenangkan, seperti sikap serba sangar, mudah menggunakan senjata dalam menyelesaikan masalah, pendendam dan tidak mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan (Giring, 2004). Akibatnya, timbul citra negatif tentang orang Madura dan budayanya.
Orang yang tidak pernah ke Madura, memiliki gambaran yang kelam tentang Orang Madura. Rata-rata pejabat yang dipindah tugas ke Madura, berangkat dengan diliputi penuh rasa was-was, karena benak mereka dihantui citra Orang Madura yang serba tidak bersahabat. Akan tetapi kemudian setelah berada di Madura, ternyata hampir semuanya berubah 180 derajat pandangannya tentang Orang Madura. Mereka dengan penuh ketulusan mengatakan bahwa Orang Madura ternyata santun, ramah, akrab dan hangat menerima tamu.
Citra negatif ini pula yang kemudian melahirkan sikap pada sebagian Orang Madura, utamanya kaum terpelajar, merasa malu menunjukkan diri sebagai Orang Madura, karena Madura identik dengan keterbelakangan atau kekasaran Keadaan ini harus diakhiri. Perlu dilakukan upaya untuk menunjukkan bahwa Orang Madura dan budayanya tidak sejelek yang diduga orang lain.
Upaya pertama adalah membangun citra positif. Membangun citra ini dimulai dengan menonjolkan hal-hal yang positif dari Budaya Madura. Untuk itu perlu dilakukan inventarisasi yang cermat nilai-nilai sosial budaya yang positif atau sering diistilahkan dengan nilai-nilai luhur. Nilai-nilai tersebut bisa kita temukan dalam pelbagai parebhasan, saloka, bangsalan atau paparegan yang banyak memuat “bhabhurughan becce’”.
Nilai-nilai ini perlu dipilah menjadi beberapa kelompok. Kelompok pertama adalah nilai-nilai yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Di antaranya adalah ungkapan-ungkapan : “Manossa coma dharma”. Ungkapan ini menunjukkan keyakinan akan kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa. Selain itu, “Abhantal ombha’ asapo’ angen, abhantal syahadad asapo’ iman” Ungkapan ini menunjukkan berjalin kelindannya Budaya Madura dengan nilai-nilai agama Islam. Bahkan, penting dimasukkan “Bango’ jhuba’a e ada’ etembang jhubha’ e budi”.
Ini semua, ajaran yang bagus dalam manajemen perencanaan, yang mengisyaratkan perlunya disusun rencana yang cermat dalam setiap kegiatan, agar tidak mengalami kesulitan di kemudian hari karena salah perencanaan. Bandingkan dengan selogan: “Perencanaan memang mahal, akan tetapi akan lebih mahal lagi akibatnya apabila kita membangun tanpa rencana”. Misalnya, tercermin dalam “Asel ta’ adhina asal” yang mengingatkan kita untuk tidak lupa diri ketika menjadi orang yang sukses dan selalu ingat akan asal mula keberadaan diri.
Pun, “Lakona lakone, kennengnganna kennengnge” Bandingkan dengan “the right man on the right job”. “Pae’ jha’ dhuli palowa, manes jha’ dhuli kalodu’”. Ini juga nasehat agar kita tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya berdasarkan fenomena. Kita harus mendalami akar permasalahan, baru diadakan analisis untuk kemudian menetapkan kebijakan. “Kar-karkar colpe’”, bisa dikembangkan untuk menumbuhkan sikap mau bekerja keras dan cerdas, apabila kita ingin menuai hasil yang bisa dinikmati.
Kelompok kedua adalah ajaran yang sementara ini penafsirannya cenderung mengarah kepada hal-hal yang acapkali menimbulkan ketakutan kepada pihak lain. Ajaran ini perlu kita beri redefinisi, atau reinterpretasi sebagaimana misalnya “Clurit Emas”nya Zawawi Imron. Clurit jangan lagi kita lihat semata-mata sebagai alat untuk mempertahankan diri atau menebas leher orang, akan tetapi bagaimana clurit ini kita maknai sebagai alat untuk “menebas ketertinggalan, kebodohan dan kemiskinan”. Ada beberapa ungkapan yang termasuk dalam kelompok ini, misalnya : “Etembhang pote mata, bhango’ pote tolang”. Ini kita berikan penafsiran baru menjadi ajaran untuk meneguhkan semangat berkompetisi. Kalau tidak ingin “pote mata”, kita harus memperbaiki diri, meningkatkan kapabilitas, sehingga tak perlu “pote tolang” Ungkapan itu perlu diubah menjadi “ta’ terro pote mata, ta’ parlo pote tolang” Bandingkan dengan “Hidup mulya atau mati syahid” (Isy kariman aw mutsy syahidan).
“Oreng jhujhur mate ngonjhur”, kita robah menjadi “oreng jhujhur mate pojhur”. “Oreng sabbhar nompa’ jikar”. Kedua ungkapan ini seolah-olah menggambarkan bahwa orang sabar atau orang jujur kondisinya kurang bersaing. Ungkapan ini perlu kita reposisi menjadi misalnya “oreng sabbhar nompa’ kapal ngabbher”. “Ola’ neng bato, odi”. Kalau semula ungkapan ini untuk menggambarkan sikap orang yang suka “narema papasten”, bisa kita beri semangat baru, bahwa perlu ada sikap ulet, tekun dan tabah untuk mempertahankan hidup.
Kelompok ketiga adalah ajaran yang kita tanamkan untuk menumbuhkan nilai-nilai baru yang positip yang sejalan dengan perkembangan zaman. Bandingkan dengan pepatah Inggris “Time is money” yang sesungguhnya bukan nilai budaya asli orang Inggris yang dimiliki sejak zaman dulu, melainkan ditumbuhkan sejak Inggris memasuki era industrialisasi. Agar masyarakat mau menghargai waktu, maka waktu dikaitkan dengan uang/profit.
Kita perhatikan beberapa ungkapan baru yang bisa kita tanamkan dan kembangkan, misalnya:
  • “Lamon terro amodel, kodhu amodal”
  • “Lamon terro penter, kodhu ajar komputer”
  • “Ta’ atane, ta’ atana’”, ini dimaksudkan untuk menumbuhkan semangat mengembangkan kehidupan di bidang agriculture dan agribisnis
  • “Ta’ adhagang, ta’ adhaging”, dimaksudkan untuk mengembangkan semangat kewiraniagaan
  • “Kembhang malate kembhang bhabur, mandhar bhadha’a paste, terro daddhia haji mabrur”
Upaya selanjutnya, membangun citra ini perlu diikuti dengan perubahan perilaku dari sebagian “taretan dibhi’”. Untuk itu perlu dilakukan studi, perilaku apa yang tidak disukai oleh orang lain, serta perilaku apa yang disukai. Perilaku yang tidak disukai kita kurangi atau dieliminasi, sedang yang disukai kita kembangkan dan dijadikan modal dalam membangun citra.
Perubahan perilaku ini memang membutuhkan proses panjang, kesungguhan dan keserempakan (sinergi). Peningkatan pendidikan masyarakat adalah jawaban yang tepat untuk ini. Penanaman budi pekerti luhur sejak dini di kalangan anak-anak, mutlak diperlukan. Juga perlu keteladanan dari para tokoh utamanya Ulama/Kyai dan para pemimpin formal. Upaya ini perlu dilakukan secara sungguh-sungguh dan terencana, yang dimotori oleh mereka yang memiliki kesadaran tentang hal ini.
Upaya berikutnya adalah menanamkan dan menumbuhkan kecintaan dan kesetiaan orang madura kepada budayanya. Ini perlu agar budaya madura tidak pupus dalam satu-dua generasi. Jangan sampai terjadi baru pada generasi kedua saja Bahasa Madura sudah tidak dikenal; sopan santun, sikap andhap asor sudah menghilang.
Membangun citra positip, memang tidak bisa serta merta, perlu proses, akan tetapi bukan sesuatu yang mustahil. Itupun harus dimulai sekarang juga, agar keadaan tidak semakin parah. Hal yang sangat penting adalah adanya kesadaran bahwa membangun citra positip harus dilakukan sendiri oleh Orang Madura, sebagaimana semboyan kelompok Pakem Maddhu, Pamekasan yang berbunyi: “Coma reng Madhura se bisa merte bhasa Madhura”.

Jumat, 14 Januari 2011

:: Peranan Syaikhona Kholil ::

Bulan Rajab ini kita pasti mengenang NU yang didirikan 16 Rajab 1344 Hijriah, bertepatan 31 Januari 1926. Hampir kita lupa bahwa arsitek utama berdirinya NU adalah seorang ulama Madura, almarhum Syaikhona Kholil Bangkalan. Syaikhona Kholil merupakan guru para ulama NU angkatan pertama sejak Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari sampai kyai As’ad Syamsul Arifin. Syaikhona Kholil merupakan arsitek puluhan pesantren besar di Jawa dan Madura. Nama harum dan pengajarannya menyebar sejak Lirboyo, Tebuireng, Krapyak, Tambakberas, Denanyar, Buntet, Sukorejo, Ploso, Lasem dan pesantren lainnya di nusantara. Syaikhona Kholil memiliki dua peranan besar di kancah keislaman Nusantara. Pertama, peranan keilmuan dan kedua peranan pendidikan politik.
Peranan besar Syaikhona Kholil yang pertama adalah meneruskan dan menjaga silsilah keilmuan tradisional dari rasulullah sampai kepada kita hari ini. Silsilah sendiri merupakan salah satu otentisitas keilmuan Islam, sebuah tradisi yang dianggap usang dalam keilmuan modern akademis. Muslim modernis tidak paham bahwa ilmu agama memerlukan mata rantai sebagai proses transmisi keilmuan dari ulama klasik sampai ulama dahulu. Dimana seorang murid harus mendapat “ijazah” silsilah ilmu dari guru atau mursyid diatasnya. Dalam tradisi sufisme, silsilah merupakan bagian penting selain Mursyid, Murid dan Talqin-Baiat. Ilmu hadits dan tasawuf para kyai NU pasti memiliki rantai silsilah keilmuan yang jika diurut akan sampai kepada sumber primer agama Islam yaitu Nabi Muhammad SAW. Syaikhona Kholil berperan besar menjaga survivalitas ilmu ini dengan menjadi penyambung ilmu hadits dan tasawuf milik Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Syekh Nawawi Al Bantani dan ulama lainnya. Ilmu yang didapat dari ulama-ulama kaliber internasional itulah yang kemudian diwariskan Syaikhona Kholil kepada seluruh muridnya dan menyebar ke seluruh Indonesia. Sulit dibayangkan, bagaimana seandainya tidak ada Syaikhona Kholil. Pasti kesahihan ilmu agama kaum muslim di Madura dan Nusantara akan mengalami missing link.

Ilmu kaum tradisional sejatinya tak ada bandingannya dengan ilmu Islam modern yang diajarkan di kampus-kampus. Contohnya, seorang ahli hadits terendah dalam keilmuan Islam yaitu Al Hafidz mensyaratkan penguasaan terhadap seratus ribu hadits termasuk sanad, rawi dan matan. Ini baru tingkatan terendah, padahal masih ada tingkatan lain diatasnya yaitu Al Hujjah (300 ribu hadits), Al Hakim (300 ribu-sejuta hadits) serta Imam (Sejuta hadits). Karenanya, ilmu kaum tradisional yang sering dituding kolot dan konservatif justru lebih kredibel daripada keilmuan Islam modern. Keilmuan modern paling tinggi seperti doktor hanya mensyaratkan lulus ujian disertasi dan bukan penguasaan terhadap ratusan ribu hadits. Seorang profesor haditspun hanya dituntut melakukan sejumlah riset dan bukan kerja keilmuan seperti ulama dahulu.Wajar, kalau kaum nahdliyyin tak pernah berpikir mengikuti pemikiran Islam kaum modernis karena di mata nahdliyyin, ilmu Islam modernis masih kalah jauh dengan ilmu ulama tradisional.

Peranan terbesar kedua Syaikhona Kholil adalah pendidikan politik Khawariqul Adah. Dalam tradisi sunni, khawariqul adah dimaknai sebagai perilaku aneh tak lazim yang biasanya dilakukan ulama sufi. Dalam tradisi Madura, perilaku khawariqul adah ini lazim disebut khelap. Politik khawariqul adah sendiri berorientasi pada dua hal yaitu maslahat di masa depan dan kontekstualitas. Politik ini rentan dengan kritik karena pelakunya pasti akan dituding tak konsisten, pragmatis, kooperatif. Karakter politik NU sebenarnya mengikuti karakter keulamaan Syaikhona Kholil yang sering menerapkan prinsip khawariqul adah yang kelihatan aneh.

Namun, bukan berarti khawariqul adah hanyalah melulu berdasar persepsi-persepsi mistis semata. Lebih daripada itu, justru terdapat unsur penting lainnya yaitu penggunaan ushul fikih. Dalam bersikap NU pasti menggunakan kombinasi antara ushul fikih dan kekuatan tasawuf kyai-kyai sepuh. Penglihatan batin kyai khos dikomparasikan dengan kekuatan nalar fikih sekaligus analisa sosial-politik cendekiawan-cendekiawan NU. Maka, kita akan melihat bahwa keanehan yang dilakukan NU justru terasa benar di kemudian hari.

Pada tahun 1935, NU menyatakan bahwa Indonesia (Hindia Belanda) yang saat itu berada dibawah jajahan Belanda sebagai Darus Salam (negara yang damai). Pendapat ini terasa aneh, bagaimana mungkin sebuah jajahan yang dihegemoni orang-orang kafir dinamakan negara salam. Namun, pada tahun 1945 NU jugalah yang pertama kali menggaungkan resolusi Jihad untuk melawan Belanda. Bahkan kekuatan resolusi jihad ini masih diperkuat lagi dengan resolusi Purwokerto tahun 1946 sebagai pembenar fikih bagi jihad perang melawan Belanda.

Pada tahun 1954 NU menghadiahi Soekarno sebagai Waliyyul Amri dharuri bissyaukah, suatu gelar yang mengabsahkan Soekarno secara hukum Islam. Anehnya, NU pulalah melalui resolusi Nuddin Lubis kemudian Resolusi Djamaludin Malik tahun 1966 yang mengusulkan agar kepemimpinan Soekarno segera diakhiri. Pada tahun 1962 NU menyetujui untuk bergabung dengan PKI dalam Nasakom, namun fakta tahun 1965-1966 menunjukkan secara faktual bahwa NU pulalah melalui banser-bansernya yang paling banyak menghabisi kekuatan komunis di Jatim dan Jateng.

Dilihat dari itu semua, seakan-akan NU memang tak konsisten dalam politik. NU terlihat pragmatis, antagonis sekaligus koperatif dalam politik. Namun, dalam kalkulasi politik NU sendiri, hal tersebut sebenarnya merupakan hal biasa sesuai karakternya yang berasal dari keluwesan fikih dan segi kontekstual yang diajarkan Syaikhona Kholil . Bagi NU, kepentingan melihat kedepan merupakan inti dari setiap pergerakan politiknya. Seandainya NU bersikap konfrontatif terhadap Belanda di tahun 1935, NU pasti akan hancur prematur seperti Syarikat Islam. Mau tidak mau NU harus mengakui Belanda untuk sementara waktu. Namun, ketika kesempatan menghancurkan Belanda itu datang, NU tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk berjihad melawan Belanda bukan saja melalui Resolusi dan fatwa Jihad tapi juga pendayagunaan laskar Hizbullah Sabilillahnya. Seandainya NU bersikap kukuh seperti Masyumi dalam kasus PKI, NU pasti juga akan hancur seperti Masyumi karena saat itu PKI dan demokrasi terpimpinnya Soekarno sulit untuk dilawan. Kekuatan politik Islampun akan semakin disingkirkan karena tidak ada representasi Islam di pemerintahan maupun legislatif. Bisa jadi Soekarno akan menunjuk orang atau kelompok lain yang tidak representatif sebagai perwakilan Islam, meski elemen itu tak mewakili kepentingan Islam yang sesungguhnya. Mau tidak mau, NU harus tetap masuk dalam demokrasinya Soekarno demi menjaga aspirasi kaum muslimin yang terancam kepentingan komunis.

Dalam kasus gelar Islam bagi Soekarno, juga dilakukan NU demi kepentingan jangka panjang yaitu menghadang gerakan Islam ekstrim tandingan Soekarno yang mendudukkan Kartosuwiryo sebagai Imam NII. Persoalan siapa imam yang sebenarnya ini dilematis, karena Kartosuwiryo menunjuk dirinya sebagai satu-satunya imam yang sah sementara rezim Soekarno tidak sah karena dianggap tak Islami. Umat Islam Indonesiapun menjadi bingung, siapa pemimpin yang sah di republik ini. Karena itu NU-pun mengesahkan posisi kepemimpinan Soekarno meski statusnya disebut darurat. Pengabsahan Soekarno inipun juga dilakukan bukan saja demi kepentingan politik tapi demi urusan lain seperti sahnya wali hakim dalam pernikahan, karena kalau pemerintahan yang tidak sah secara hukum Islam otomatis perwalian oleh negara bersangkutan bagi calon pengantin perempuan yang tidak memiliki wali nasab akan menjadi batal. Pengabsahan Soekarno berarti menunjukkan pula sahnya pemerintahan yang dipimpinnya.

Semua hal diluar kebiasaan yang dilakukan NU sebenarnya memiliki implikasi sendiri dan itu hanya bisa dilihat di masa depan sesuai ajaran Syaikhona Kholil.Kita dapat menyimpulkan bahwa melihat benar salahnya sebuah persoalan dari sudut kontekstualitas tentu saja hanya bisa dirasakan di masa depan. inilah politiknya Syaikhona Kholil.